top of page

Mengelola Padi di Era Krisis Lingkungan: Bagaimana Teknologi Pemupukan dan Irigasi Baru Bisa Jadi Penyelamat Masa Depan

  • Gambar penulis: Masyita Insyra Putri
    Masyita Insyra Putri
  • 16 Des 2025
  • 3 menit membaca
Mengelola Padi di Era Krisis Lingkungan: Bagaimana Teknologi Pemupukan dan Irigasi Baru Bisa Jadi Penyelamat Masa Depan

Di tengah ancaman perubahan iklim dan lonjakan kebutuhan pangan dunia, sawah padi kembali menjadi pusat perhatian. Panel perubahan iklim dunia memperkirakan bahwa permintaan pangan global akan meningkat hingga 70 persen pada tahun 2050. Di balik angka itu, satu kenyataan menonjol: beras masih menjadi sumber energi utama bagi lebih dari separuh penduduk bumi.


Namun lahan subur tidak bertambah, sementara tekanan produksi justru semakin besar. Di banyak wilayah penghasil beras, termasuk Tiongkok bagian timur, intensifikasi pertanian menjadi pilihan utama. Petani menggantungkan hasil panen pada jumlah pupuk nitrogen yang sangat tinggi dan pasokan air yang terus mengalir tanpa henti. Praktik ini memang menjaga produksi, tetapi meninggalkan jejak masalah yang tidak kecil. Gas rumah kaca meningkat, air sungai tercemar, tanah mengasam, dan udara mengandung partikel halus berbahaya.



Ketika Pupuk Dapat Mengatur Dirinya Sendiri

Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah inovasi mulai mencuri perhatian: controlled-release urea (CRU). Ini bukan pupuk biasa. Lapisan pelindung khusus membuat nitrogen di dalamnya tidak langsung larut begitu terkena air. Ia justru menunggu, menyesuaikan diri dengan ritme kebutuhan tanaman.


Pendekatan ini membuat nitrogen lebih tepat sasaran. Akar tanaman dapat menyerapnya perlahan, tanpa kelebihan yang kemudian menguap ke udara atau hanyut ke sungai. Di beberapa daerah, penggunaan CRU yang ditempatkan lebih dalam di sisi tanaman terbukti mampu meningkatkan efisiensi nitrogen sekaligus mengurangi emisi amonia hingga lebih dari setengahnya.


Bagi petani, manfaatnya sangat terasa. Tanaman tumbuh lebih stabil, hasil meningkat, dan biaya tambahan berkurang karena pupuk tidak banyak terbuang.



AWD: Irigasi Cerdas yang Mengajari Tanah Bernapas

Selain pemupukan, pengelolaan air terbukti menjadi kunci penting dalam menjaga sawah tetap produktif dan ramah lingkungan. Salah satu teknik yang paling banyak dibicarakan adalah alternate wetting and drying (AWD). Metode ini sederhana, tetapi sangat efektif: sawah tidak terus-menerus digenangi. Air diberikan hanya ketika permukaan tanah benar-benar membutuhkan.


Dengan cara ini, sawah ā€œbernapasā€. Tanah mengalami fase basah dan kering secara bergantian. Hasilnya, kebutuhan air berkurang drastis, serangan penyakit menurun, kualitas beras meningkat, dan emisi metana yang biasanya tinggi di sawah tergenang dapat ditekan.


Namun setiap inovasi selalu membawa tantangan. AWD, dengan pola lembap-keringnya, ternyata bisa memicu kenaikan emisi gas nitrous oxide, gas rumah kaca yang lebih kuat dibanding metana. Selain itu, risiko kehilangan nitrogen melalui penguapan atau aliran permukaan juga meningkat.


Di sinilah muncul kebutuhan untuk menggabungkan pendekatan pemupukan dan irigasi yang saling melengkapi.



Ketika Dua Teknologi Bertemu

Penggabungan CRU yang ditempatkan secara tepat dengan sistem AWD menawarkan harapan baru. CRU membuat nitrogen tetap tersedia dan tidak mudah hilang ketika tanah mengering atau berubah kembali menjadi basah. AWD, di sisi lain, menghemat air dan meningkatkan kesehatan tanah tanpa harus mengorbankan produktivitas.


Beberapa eksperimen lapangan menunjukkan bahwa kombinasi ini mampu meningkatkan hasil panen secara signifikan, sambil menurunkan emisi gas-gas berbahaya dan mengurangi risiko pencemaran nitrogen. Petani mendapatkan hasil yang lebih tinggi dan lebih stabil, sementara lingkungan mendapatkan keuntungan berupa udara yang lebih bersih, air yang lebih jernih, dan tanah yang lebih sehat.


Pendekatan ini juga memperlihatkan bahwa pengelolaan nitrogen tidak hanya soal ā€œseberapa banyak pupuk yang digunakanā€, tetapi juga ā€œbagaimana, kapan, dan di mana pupuk itu diterapkanā€.



Lembah Sungai Yangtze: Laboratorium Hidup Pertanian Masa Depan

Wilayah tengah dan hilir Sungai Yangtze menjadi contoh nyata bagaimana tantangan dan inovasi bertemu. Di sini, ratusan ribu hektar sawah bergantung pada pupuk nitrogen untuk menghasilkan hampir separuh produksi beras nasional.

Tetapi wilayah ini juga menghadapi konsekuensi paling nyata dari intensifikasi: kualitas air menurun, emisi gas meningkat, dan stabilitas tanah menurun.


Ketika para petani dan peneliti mulai mencoba kombinasi CRU dan AWD di wilayah ini, hasilnya mencengangkan. Produksi naik, efisiensi nitrogen meningkat, emisi berkurang drastis, dan lahan tetap produktif tanpa harus ā€œdisuapiā€ nitrogen berlebihan. Yang lebih penting, pendekatan ini memberikan gambaran bagaimana sistem pertanian masa depan dapat bekerja: efisien, hemat air, rendah emisi, dan tetap menguntungkan.



Melihat Pertanian dengan Kacamata Baru

Kini, semakin jelas bahwa masa depan produksi beras tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan konvensional. Mengabaikan lingkungan berarti menghancurkan fondasi yang menopang pertanian itu sendiri.


Kombinasi teknologi pupuk cerdas, pengairan hemat air, dan pemahaman mendalam tentang ekologi tanah membuka jalan baru yang lebih berkelanjutan. Tidak lagi sebatas ā€œmasa panen tahun iniā€, tetapi tentang masa depan anak-anak kita.


Kisah pertanian padi di Asia – dari Cina hingga Asia Tenggara – kini bergerak menuju model yang lebih bijak. Sebuah perjalanan panjang menuju keseimbangan: antara kebutuhan manusia dan kesehatan bumi.


Pelajari lebih lanjut tentang inovasi produksi SAWA Biochar dan dampaknya terhadap pertanian berkelanjutan.


Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


Warna Akhir Logo SAWA-03.png

Memberikan solusi inovatif yang melawan perubahan iklim dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan

Tautan

Lokasi:

Artha Graha Building, SCBD, Kawasan Niaga Terpadu Sudirman, Jl. Jend. sudirman kav 52-53 Blok 52 - 53, RT.5/RW.3, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12190

bottom of page