Daur Ulang Kotoran Ayam Jadi Katalis Ramah Lingkungan? Inovasi Hijau dari Biochar Magnetik!
- Masyita Insyra Putri
- 23 Jul
- 2 menit membaca

Ketika kita membicarakan kimia hijau, salah satu prinsip utamanya adalah bagaimana kita bisa mengurangi limbah dan memanfaatkan kembali bahan-bahan yang selama ini dianggap “sampah”. Dalam dunia industri dan sains modern, pemanfaatan limbah sebagai sumber daya baru adalah langkah cerdas, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.
Salah satu terobosan menarik datang dari biochar berbahan kotoran ayam, bahan yang sering dianggap menjijikkan ini ternyata bisa disulap menjadi katalis canggih dan ramah lingkungan!
Dari Kotoran Ayam ke Biochar: Langkah Pertama Menuju Solusi Hijau
Dalam inovasi ini, kotoran ayam diolah melalui proses pemanasan tanpa oksigen (pirolisis) untuk menghasilkan biochar nanopartikel, yaitu arang berukuran sangat kecil dengan pori-pori yang luas. Biochar ini kemudian dimagnetisasi menggunakan partikel nikel, agar bisa dengan mudah dipisahkan atau didaur ulang hanya dengan bantuan magnet sederhana.
Setelah itu, permukaan biochar ini dimodifikasi dengan ligan dithizone, dan kemudian digunakan untuk menstabilkan katalis logam ruthenium (Ru). Katalis ini pun diberi nama: Ru-dithizone@biochar-Ni MNPs, katalis ramah lingkungan yang bisa digunakan berulang kali!
Kenapa Harus Magnetik?
Salah satu masalah utama dalam penggunaan katalis nano adalah sulitnya proses pemisahan setelah reaksi. Karena ukurannya sangat kecil, menyaringnya pakai cara biasa seperti penyaringan air tidaklah efektif. Tapi kalau kita menambahkan sifat magnetik, maka katalis bisa langsung “diangkat” dari larutan hanya dengan menempelkan magnet dari luar, praktis dan efisien!
Dan inilah yang membuat biochar-nikel ini istimewa: selain aktif sebagai katalis, ia bisa didaur ulang dengan sangat mudah dan tidak kehilangan kemampuannya meskipun digunakan berkali-kali.
Aplikasi Nyata: Reaksi Kimia dalam Air, Bukan Pelarut Beracun
Biasanya, reaksi kimia penting seperti pembentukan ikatan karbon-karbon (C–C coupling), digunakan dalam pembuatan obat, bahan aktif, dan bahan industri, memerlukan katalis mahal seperti palladium dan pelarut beracun.
Tapi dalam pendekatan ini, katalis berbasis ruthenium tidak memakai fosfin dan tidak membutuhkan pelarut berbahaya. Semua reaksi dilakukan dalam air, yang tentu saja aman, murah, dan mudah didaur ulang. Bahkan karena produk akhir dari reaksi ini tidak larut dalam air, proses pemurnian pun jadi sangat mudah dan efisien.
Kelebihan Inovasi Ini:
✅ Mengubah limbah menjadi sumber daya, terutama dari kotoran ayam yang sangat melimpah.
✅ Ramah lingkungan, karena tidak menggunakan pelarut beracun.
✅ Mudah dipisahkan dan digunakan ulang, berkat sifat magnetiknya.
✅ Lebih murah dan berkelanjutan, karena tidak tergantung pada logam mahal seperti palladium.
✅ Berpotensi luas dalam berbagai industri kimia, farmasi, hingga material maju.
Inovasi yang Menghubungkan Sains dan Lingkungan
Inovasi ini menunjukkan bagaimana limbah organik seperti kotoran ayam bisa diubah menjadi katalis industri bernilai tinggi. Dengan menambahkan pendekatan hijau seperti penggunaan air sebagai pelarut dan magnetisasi untuk daur ulang, teknologi ini bisa menjadi contoh nyata penerapan prinsip kimia hijau dalam kehidupan nyata.
Langkah kecil dari kandang ayam bisa membawa dampak besar bagi masa depan industri yang lebih bersih, hemat, dan berkelanjutan.
Pelajari lebih lanjut tentang inovasi produksi SAWA Biochar dan dampaknya terhadap pertanian berkelanjutan.
Komentar